BerobatkeMelaka.com: Startup di Bidang Medical Tourism Yang Terus Bertahan Selama Pandemi

  • Share
BerobatkeMelaka.com Startup di Bidang Medical Tourism

Menyebarnya virus COVID-19 seijak awal 2020 membawa dampak buruk bagi industri pariwisata, baik itu industri perhotelan, penerbangan, travel agent, dan termasuk di antaranya wisata berobat atau yang dikenal sebagai medical tourism.

Salah satu startup di bidang medical tourism yang masih bertahan sampai saat ini contohnya, berobatkeMelaka.com, startup yang membantu pasien untuk berobat ke Melaka, Malaysia, berbagi kisahnya ke tim entrepreneur.co.id.

“Setelah pemerintah Malaysia melakukan relaksasi lockdown, turis asing termasuk dari Indonesia  dengan kasus tertentu boleh datang berobat.”

Di awal 2022 ini, pertanyaan yang paling umum ditanyakan pasien adalah “Pasien asal Indonesia (terutama dari Pekanbaru dan Dumai) yang ingin melakukan pengobatan di Melaka bingung sebaiknya lewat Kuala Lumpur atau Johor ya?”

Berikut tips dari mereka:

Lewat pelabuhan Dumai

Untuk memangkas waktu dan biaya, pasien asal Pekanbaru dan Dumai bisa lewat pelabuhan di Dumai jauh lebih simple dan dekat. Namun, dari informasi yang tim berobatkeMelaka.com dapatkan, operator penyeberangan untuk rute Dumai ke Melaka belum beroperasi sejak pandemi.

Jika memang mau lewat Dumai, pasien hanya bisa pergi menggunakan feri dengan sistem charter, biayanya sekitar 70 juta. Tentunya banyak pasien yang keberatan dengan kondisi ini.

Bayangkan saja, 70 juta untuk berangkat doang, belum lagi biaya lainnya, seperti:

  1. Biaya karantina. Sesampai di rumah sakit tujuan, baik pasien atau pendamping akan di PCR dan dikarantina selama 7 hari bagi yang sudah vaksin lengkap atau 10 hari bagi yang belum vaksin. Biaya karantina ini tidaklah sedikit, yaitu sekitar 1000 ringgit/ hari untuk 2 orang. Itu artinya selama 7 hari akan menghabiskan uang sekitar 7000 ringgit.
  2. Biaya tindakan. Perlu diingat bahwa, kedua biaya sebelumnya belum termasuk biaya tindakan.

Nah, untuk opsi yang lebih terjangkau (walau tentu cukup memakan waktu) adalah pergi ke Melaka lewat Kuala Lumpur atau Johor terlebih dahulu.

Kenapa dibilang terjangkau padahal rutenya makin jauh? Karena lewat dua rute ini bisa menggunakan pesawat komersil, yang jelas harganya jauh lebih terjangkau daripada charter. Dari kedua opsi ini, mana yang lebih baik?

Lewat Kuala Lumpur

Ini cocok bagi pasien dari kota yang ada penerbangan langsung ke KL, misalnya dari Jakarta dan Medan.

  • Harga tiket menuju ke KL saat ini sekitar Rp 1,5 – 2 Jutaan.
  • Bagi warga Medan, menuju ke Malaka cukup simple. Pasien bisa berangkat dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (Medan) – Bandara Internasional Kuala Lumpur (Kuala Lumpur.

Sesampai di KL, pasien dan pendamping akan dijemput oleh pihak rumah sakit pakai ambulance dan langsung menuju RS.

Lewat Johor

Kalau lewat Johor, ini cocok untuk pasien dari Pekanbaru dan Kepulauan Riau.

  1. Pasien baik dari Pekanbaru atau Kepri bisa naik pesawat komersil menuju Batam terlebih dahulu.
  2. Jika sudah sampai, pasien akan melanjutkan perjalanan dengan naik feri dari Batam Central (Batam) menuju Stulang Laut atau atau Pasir Gudang (Johor Bahru). Rute Batam-Johor ini  menghabiskan sekitar RM 100 (sekitar Rp 350 ribu).
  3. Setelah di Jalan Stulang Laut, pihak rumah sakit Melaka akan jemput pakai ambulan dan langsung menuju rumah sakit.

Mau lewat Dumai, KL, atau Johor, yang penting pasien bisa mendapatkan perawatan segera. Untuk mengurus keperluan janji dengan dokter, ijin masuk ke Malaysia sebelum keberangkatan, bisa hubungi tim berobatkeMelaka.com.

Kedepan, tim berobatkeMelaka.com cukup optimistis kalau trend wisata berobat akan perlahan pulih karena tingkat vaksinasi baik di Indonesia dan Malaysia sudah cukup tinggi. Dengan begitu, orang-orang bisa mulai bepergian, tentunya dengan tetap menjaga diri.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.