Entrepreneur.co.id
Berita Ekonomi Infrastruktur

Perusahaan-perusahaan properti Cina berusaha untuk memperluas di Indonesia

Beberapa pengembang perusahaan China, termasuk China Fortune Land Developer (CFLD), sedang mencari cara untuk memperluas bisnis properti mereka yang ada di Indonesia. Eksekutif senior perusahaan Cina bertemu dengan Menteri Koordinator Kelautan yaitu Luhut Pandjaitan di kantor nya di Jakarta pada hari Selasa.

Selama pertemuan tersebut para pebisnis Cina menyatakan niat mereka untuk memperluas bisnis mereka di sektor properti yang sedang tumbuh di negara itu.

“Mereka ingin berinvestasi, jadi mereka datang ke sini,” kata Luhut seperti dikutip oleh tempo.com setelah pertemuan dengan para pengusaha Cina.

Luhut mengatakan tidak ada rincian rencana investasi yang telah dibahas selama pertemuan, tetapi eksekutif CFLD telah menyatakan komitmen yang kuat untuk berinvestasi di negara itu, kata Luhut.

CFLD telah terlibat dalam sejumlah proyek properti di negara ini sejak 2016, dengan total investasi sekitar Rp 19 triliun (US $ 1,35 miliar). Proyek-proyek yang ada di perusahaan termasuk kawasan perumahan Lavon Swancity di Tangerang dan kawasan industri Industri Baru Karawang di Jawa Barat.

Luhut mengatakan bahwa CFLD adalah salah satu pengembang properti paling berpengalaman yang ada di Cina, telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan Cina lain nya dalam menjalankan bisnis nya di Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan serangkaian paket kebijakan ekonomi untuk menarik investasi asing, yang baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda menurun di tengah perlambatan ekonomi global. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), misal nya, telah memperkenalkan sistem pengiriman tunggal online (OSS) layanan lisensi pemerintah yang terintegrasi untuk mempercepat proses perizinan.

Menurut data BKPM, ialah realisasi investasi asing turun 0,9 persen menjadi Rp 107,9 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Selama periode itu, Singapura adalah investor asing terbesar dengan investasi $ 1,7 miliar, diikuti oleh Cina daratan dengan $ 1,2 miliar, Jepang dengan $ 1,1 miliar, Malaysia dengan $ 0,7 miliar dan Hong Kong dengan 0,6 miliar.

Related posts

Ekonomi Indonesia Belum Maksimalkan Industri Manufaktur

Ronald Simatupang

Setahun Gaji Bos Twitter Hanya Rp 20.000

Ronald Simatupang

Pemerintah Pastikan Aksi Massa 22 Mei Tidak Ganggu Ekonomi Indonesia

Reni Puspita

Leave a Comment